Selasa, 14 Desember 2010

Tesk Drama Gunung Cinta




Oleh:
Kelas XI IPA 1
SMA Negeri 1 Kota Serang
TP 2010-2011

GUNUNG CINTA

Pemain :
Aanisha Rafni Puspita, sebagai Icha dan Mira
Hanifah Fauziyah, sebagai Adik dan Hanifah
Kevin Chang Jaya, sebagai Egi
Kiki Liya Fitriani, sebagai Kiki, Teman Adik dan Perawat
Rona Febriska Putri, sebagai Emak
Rully Ferdiansyah, sebagai Yoga
Sakinah Ummu Zahroh, sebagai Sakinah dan Rani


ADEGAN 1

ITB adalah Institut Teknik terkemuka yang ada di kota Bandung. Banyak orang yang ingin melanjutkan pendidikannya di Institut terkenal itu. Sangat beruntung sekali Yoga dan Egi yang dapat merasakan menuntut ilmu di Institut Teknik Bandung itu.
Yoga adalah seorang mahasiswa ITB asli Yogyakarta yang mengambil jurusan SBM (School Business of Management). Ia adalah satu-satunya siswa yang masuk ITB dari sekolah terpencil di Yogya. Sedangkan Egi, dia adalah satu-satunya anak dari keluarga China yang menuntut ilmu di Indonesia. Semua keluarga Egi tinggal di China kecuali kakek buyutnya yang asli Indonesia.
Mahasiswa maupun mahasiswi ITB selalu disibukkan dengan belajar, tugas dan praktek. Karena kesibukan yang terus menerus, tak jarang jika salah satu diantara mereka ada yang galau, terkantuk-kantuk, bahkan tertidur pulas didalam kelas. Kesibukkan ini berlangsung terus menerus sampai akhirnya tiba saatnya liburan akhir semester.

Semua : “Yeee….” (semua bersorak kecuali Yoga)
Kiki : “Eh, Yoga. Galau saja. sudah liburan nih!”
Sakinah : “Yoga, kamu pulang ke Yogya nggak?”
Yoga : (tiba-tiba bersemangat) “Wooh, iya dong. Gue kangen Emak.”
Hanifah : “Cha, kamu balik ke Cilegon nggak? Titip oleh-oleh ya.”
Icha : “Gue nggak pulang nih. Liburan di rumah Bibi, lu?”
Hanifah : “Aku sih pulang ke Serang, Cha.”
Yoga : “Eh, Gi! Lu nggak pulang ke China?”
Egi : “Kejauhan boy! Cuma libur 2 minggu mau ke China.”
Yoga : “Terus? Lu di kosan? Lu jagain kosan gue ya? Heheh.”
Kiki : “Cuma di kosan, Gi? Huh, nggak seru!”
Egi : “Nggak seru juga sih liburan cuma di kosan. Ehm, Ga, gue ikut lu ke Yogya saja ya?”
Yoga : “Wedeeeh. Mau ngapain lu? Nggak, nggak.”
Egi : “Ayolah, Ga. Kita itu sahabat, satu kosan pula. Gue sudah terbiasa hidup bersama lu. Jadi gue ikut lu ke Yogya ya.”
Semua : “Huuu, lebay”
Egi : “Iya? Iya?” (mencolek Yoga sambil menaikkan alis)
Yoga : “Emm, dengan sangat terpaksa, gue harus bilang. Iya deh.”
Egi : “Hehe. Makasih boy!”


ADEGAN 2

Saat liburan akhir semester, akhirnya Egi mengikuti Yoga, sahabatnya, yang pulang ke desa Gunung Meleduk di Yogyakarta. Diperjalanan, Egi melihat pemandangan alam Indonesia yang sangat indah. Terutama pada gunung yang menjulang tinggi didepan matanya.

Egi : “Waaah, Ga. Itu gunung apa? Indahnya?”
Yoga : “Itu gunung Merapi, rumah gue juga dekat situ kok.”
Egi :“Bagus tuh! Nanti kita hiking ke sana yuk!”
Yoga : “Hush! Itu gunung Merapi tahu!”

Egi sangat senang mendengar bahwa rumah Yoga dekat dengan gunung Merapi. Sepanjang perjalanan, Egi terus bertanya-tanya tentang gunung Merapi. Ia sangat ingin mendaki gunung itu. Sampai-sampai Yoga kesal menanggapinya.

Egi : “Ga, Yoga! Gunungnya semakin dekat!”
Yoga : “Iya..” (kesal) “Kan rumah gue dekat situ!”
Egi : “Kapan sampainya?”
Yoga : “Sebentar lagi.”
Egi : “Dari tadi sebentar lagi, sebentar lagi saja.”
Yoga : “Tuh, disana! Sebentar lagi!” (semakin kesal)
Egi : “Huh..”

ADEGAN 3

Setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya mereka berdua tiba di rumah sederhana berwarna biru yang terletak di kaki gunung Merapi. Disitulah tempat keluarga Yoga tinggal.

Yoga : “Assalamu’alaikum, Mak..!”
Emak : “Wa’alaikum salam. Eh, anak Emak pulang toh.”
Yoga : “Iya, Mak. Pie kabar Emak? Sehat?”
Emak : “Emak sehat, Mas. Ini sopo toh?”
Yoga : “Ini teman se-kosan Yoga di ITB, Mak. Namanya Egi.”
Egi : “Sore, Bu.”
Emak : “Iyo, iyo..”
Adik : “Maaas! Maaas!” (teriak dari dalam rumah) “Yee, Mas Yoga pulang.”
Yoga : “Eh, Adik.”
Adik : “Ini sopo toh mas? Mas bawa teman Jet Li kesini?”
Yoga : “Weeh, ini teman mas mu, bukan teman Jet Li.”
Adik : “Oooh..”
Emak : “Enggih-enggih duduk dulu. Pasti kalian capai kan. Emak kangen nih karo mas Yoga. Pie mas kuliahnya?”

(Emak, Yoga, Egi dan Adik berbincang-bincang tanpa suara)

Sore itu, Yoga, Emak dan Adik melepas kerinduannya dengan mengobrol santai diteras rumah. Tak terasa mereka berbincang-bincang hingga malam tiba.

Emak : “Duuh, tidak terasa sudah malam toh. Sudah mas, istirahat dulu di kamar. Emak mau masak dulu buat makan malam.”
Egi : “Makasih, Bu. Nggak perlu repot-repot.”
Adik : “Ya, Emak. Pie toh? Lagi seru ngobrolnya. Malah disuruh istirahat.”
Emak : “Hush! Mas mu capai. Habis menempuh perjalanan panjang. Ayo-ayo masuk dulu, sudah malam.”

ADEGAN 4

Sementara Emak memasak, Yoga dan Egi beristirahat dikamar. Kamar Yoga memang tidak terlalu besar, hanya berukuran 3 x 3 meter. Tapi cukup nyaman untuk tempat mereka berdua membicarakan hal-hal yang menarik.

Egi : “Rapih juga kamar lu. Nggak kayak kamar kosan lu yang acak-acakan.”
Yoga : “Kamar ini adik gue yang tempatin. Kalo gue pulang adik gue pindah ke kamar satu lagi.”
Egi : “Oooh, pantesan. Gue yakin kalau kamar ini lu yang tempatin, pasti sudah kayak kapal meledug.”
Yoga : “Huh, asal!”
Egi : “Ga, kata lu rumahnya Mira dekat rumah lu. Dimana?”
Yoga : “Masih inget saja lu sama Mira. Padahalkan gue sudah lama nggak cerita sama lu.”
Egi : “Hehe. Iya dong. Mira itu cewek yang lu suka dari dulu kan? Yang lu certain ke gue kalo Mira tuh kembang desa ini. Cantiknya luar biasa. Gimana gue bisa lupa?”
Yoga : “Huh, padahal lu belum lihat Mira kan?”
Egi : “Ia sih, tapi gue bisa membayangkan dia itu kayak gimana.”
Yoga : “Nanti besok gue tunjukin rumahnya.”

(Adik datang)

Adik : “Maas! Ini toh pisang goreng buat makan malam.”
Yoga : “Yaah, kok cuma pisang goreng toh? Nggak kenyang.” (sambil memegang perutnya)
Adik : “Emak cuma masak ini, berasnya habis. Sudah makan saja, mentang-mentang kebiasaan hidup di kota besar. Huu, jadi manja.”
Yoga : “Iya dong, anak ITB. Ya nggak, Gi?”
Adik : “Hu, sudah cepat makan pisang gorengnya.”
Yoga : “Iya, bawel. Lagipula kenapa sih harus cepat-cepat?
Adik : “Piringnya mau dipakai lagi!”
Yoga : “Ayo, Gi. Dimakan dulu pisang gorengnya.”
Egi : “Iya, iya.”

(Egi, Yoga dan Adik memakan pisang gorengnya)

Adik : “Lagi ngomongin apa toh mas Yoga sama mas temannya Jet Li?”
Yoga : “Heh, namanya Egi. Dia sahabat mas di ITB.”
Adik : “Iya, iya. Mas Egi. Lagi ngomongin apa toh?”
Yoga : “Mau tau saja. Ini urusan pemuda ITB.”
Adik : “Ih, sombong! Nanti aku juga mau kuliah di UNPAD.”
Yoga : “Makanya belajar yang benar. Supaya bisa kayak mas nih.”
Adik : “Mas, kok nggak di jawab? Lagi ngomongin apa? Aku ikut ngbrol ya.”
Yoga : “Nggak.”
Adik : “Ih, mas Yoga! Mas Egi, sebenernya tadi lagi ngomongin apa sih?”
Egi : “Mmh, mm, lagi.. Tadi lagi ngomongin… Mira.”
Adik : “Ooh, mbak Mira yang cantik itu toh. Mas kangen ya sama mbak Mira? Hayoo.”
Yoga : “Apa sih kamu nih. Sudah sana ke Emak.”
Adik : “Waktu itu mba Mira nanya mas loh.”
Yoga : “Yang benar dik?”
Adik : “Benar! Waktu itu mba Mira menanyakan mas Yoga. Katanya saputangan mbak Mira belum di kembalikan.”
Yoga : “Yeeh, kirain.”
Egi : (ketawa) “Tuh, Ga. Kembalikan.”
Yoga : “Nggak ada cerita lain dik?”
Adik : “Nggak.”
Yoga : “Ya sudah sana. Kembalikan tuh piringnya ke Emak.”
Adik : “Aku mau disini ikut ngobrol.”
Emak : (teriak) “Adiiik. Piringnya sudah belum?”
Yoga : “Tuh, Emak sudah manggil. Sana-sana.”
Adik : “Iya!”

(Adik keluar panggung)

Egi : “Haha. Adik lu lucu juga! Kelas berapa?”
Yoga : “Kelas 10.”
Egi : “Dia pingin masuk UNPAD ya?”
Yoga : “Iya. Katanya pingin kuliah di Bandung bersama gue tapi dia nggak mau ke ITB.”
Egi : “Ooh. Eh, saputangan itu? Bagaimana ceritanya?”
Yoga : “Sudahlah nggak perlu di pikirkan. Itu cerita lama.”
Egi : “Weeh boy, cerita dong ke gue. Gue kan sobat lu.”
(Egi dan Yoga berbincang tanpa suara)

ADEGAN 5

Yoga menceritakan tentang kejadian sapu tangan itu. Malam itu mereka berdua terus membicarakan tentang Mira, sang bunga desa. Dan akhirnya merekapun tertidur.
Keesokan paginya, ketika Yoga masih tertidur di kamarnya. Egi berjalan-jalan disekitar rumah Yoga sambil menghirup udara segar. Tak lama kemudian Egi melihat perempuan cantik lewat di depan rumah Yoga. Dia terpesona oleh senyuman gadis itu dan dia pun jatuh cinta pada gadis itu. Yoga sudah terbangun dari tidurnya dan menghampiri Egi yang ada di teras rumahnya.

Yoga : “Gi, lagi apa lu?”
Egi : “Biasa, lagi mencari udara pagi. Ga, jalan-jalan yu! Sekalian lu tunjukan rumah Mira.”
Yoga : “Lu ngebet sekali pingin ke rumah Mira. Memang kenapa?”
Egi : “Nggak kenapa-kenapa, soalnya tadi gue liat cewek cantik. Siapa tahu saja Mira.”
Yoga : “Huh, sok tahu lu. Cewek cantik di desa ini banyak.”
Egi : “Ya sudah lah. Cepat!”
Yoga : “Iya, iya.” (masuk ke kamar)
Egi : “Weh, mau ngapain masuk lagi… Dandan saja.”
Yoga : “Ya elah, boy! Gue kan harus tampil keren.”
Egi : “Apaan sih lu. Sudah cepat lah. Banyak gaya lu!” (sambil menarik Yoga ke luar kamar)
(Egi dan Yoga berjalan-jalan)
Yoga : “Tuh! Rumah Mira! (menunjuk)
Egi : “Ooh, itu rumahya. Ga, Ga, siapa tuh yang lagi nyapu.”
Yoga : “Yang mana sih?” (menyipitkan mata)
Egi : “Itu tuh. Eh, itu kan!” (mengingat seseorang) “Ga, itu Mira?”
Yoga : “Mana? Iya itu Mira. Kok lu tau.”
Egi : “Itu kan cewek yang…”
Yoga : “Kenapa?”
Egi : “Ng, nggak. Nggak kenapa-kenapa. Pulang yuk! Lapar nih.”
Yoga : “Nanti dulu boy. Gue masih mau disini dulu.”
Egi : “Kangen ya… Ceile..”
Yoga : “Ya iyalah, sudah 6 bulan gue nggak liat Mira. Makin cantik saja.”
Egi : “Aaah, sudahlah ayo pulang, gue lapar sekali nih.”
Yoga : “Lu tuh ya. Nggak tau gue lagi seneng apa!” (sambil berjalan pulang)

ADEGAN 6

Sesampainya dirumah, mereka dihidangkan sarapan pagi oleh Adik. Mereka bertiga berbincang-bincang.

Adik : “Mas, habis darimana?”
Yoga : “Anak kecil mau tahu saja!”
Egi : “Eh, Adik sudah bangun.”
Adik : “Eh,mas Egi. Ini sarapan dari Emak.” (duduk ikut ngobrol bareng Yoga dan Egi)
Yoga : “Yaa, nasinya mana? Kok cuma bakwan?”
Adik : “Adanya cuma ini.”

(Tiba-tiba teman Adik datang)

Teman Adik: “Nur…. Nur…”
Adik : “Eh, Anya! Sini-sini, Nya!”
Teman Adik: “Nur, ini sopo toh Nur?” (menunjuk Yoga) “Ini mas mu yang kamu certakan itu bukan?”
Adik : “Iya , Nya. Ini mas aku yang sekolah di kota itu. Liat saja sekarang gayanya, sudah kayak Meler pacarnya Arumi Bachin.”
Yoga : “Miller pacar Arumi Bachin.”
Adik : “Iya maksudnya itu. Mas kenalkan ini temanku.”
Yoga : “Namanya siapa?”
Teman Adik: “Nama saya Siti Maimunah Halimah Nurlela Saraswati Supardi Katerdjo Mangun Kusumo.”
Egi : “Hah? Panjang sekali? Nama panggilannya?”
Teman Adik: “Anya ! Waah kebetulan, ayo kita belajar bareng selagi ada mas kamu.” (langsung duduk disebelah mas Yoga)
Adik : “Sekarang kan lagi liburan. Alasan saja pingin belajar, padahal kamu pingin dekat-dekat mas aku kan?”
Teman Adik: “Serius aku pingin belajar!”

(berbincang-bincang tanpa suara)

ADEGAN 7

Mereka ber-empat terus mengobrol sambil memandangi gunung Merapi. Sampai pada akhirnya Anya dan Adik pergi bermain ke sawah milik Anya.

Adik : “Mas Yoga, aku sama Anya mau main ke sawah dulu ya. Tolong kasih tahu Emak ya.”
Yoga : “Iya. Pulangnya jangan terlalu sore.”
Egi : “Hati-hati ya. Dadah..” (melambaikan tangan)

(Anya dan Adik pergi)

Egi : “Ga, kapan gunung ini meletus?”
Yoga : “Besok kali.”
Egi : “Serius, Ga?”
Yoga : “Ya gue nggak tau. Tapi gunung Merapi ini statusnya sudah siaga 1.”
Egi : “Kok disini belum ada yang ngungsi?”
Yoga : “Masyarakat didesa ini percaya ke mbah Marijan.”
Egi : “Huh, masih kuno ya. Harusnya utamakan keselamatan apalagi Mira. Kan sayang kalo gadis secantik dia mati gara-gara gunung meledug.”
Yoga : “Lu kenapa sih dari tadi ngomongnya Mira terus?”
Egi : “nggak apa-apa.”

ADEGAN 8

Keesokan harinya, setelah sarapan pagi merekapun mandi dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sementara Yoga membantu ibunya di rumah, Egi nekat pergi ke rumah Mira.

(di rumah Mira)

Egi : “Misi mbak.”
Mira : “Iya, ada apa toh?”
Egi : “Mbak Mira ya?”
Mira : “Iya saya sendiri. Mas ini siapa toh?”
Egi : “Saya Egi temannya Yoga. Mbak kenal Yoga?”
Mira : “Ooh, mas Yoga yang di ITB itu ya?”
Egi : “Iya, saya temannya Yoga dari ITB.”
Mira : “Ooh, bagaimana kabar mas Yoga?”
Egi : “Kok nggak nanya kabar saya?”
Mira : (tersenyum malu-malu)

(mereka mengobrol tanpa suara)

ADEGAN 9

Dirumah Mira, Mira sedang menceritakan permasalahannya kepada sahabatnya yang bernama Rani.

Mira : “Ran, pie iki. Aku tau Egi suka karo aku. Dia ngedeketin aku tanpa sepengetahuan Yoga. Tapi, aku wedhi mereka jadi bertengkar karena aku.”
Rani : “Yo wish, sebenere kamu suka karo sopo? Egi opo Yoga?”
Mira : “Ya, Yoga lah. Sudah dari dulu, aku suka karo Yoga.”
Rani : “Berarti kamu ojo ladeni si Egi dong!”
Mira : “Aku tak enak, masa si Egi aku galakin?”
(Rani dan Mira berbincang tanpa suara)

ADEGAN 10

Mira pun menceritakan semua masalah yang ia hadapi bersama Yoga dan Egi. Rani dengan senang hati mendengarkan curhatan sahabatnya itu.

Mira : “Ran, apa yang aku khawatirin bener terjadi!. Egi dan Yoga gulet karena aku! Aku harus ngapain Rani?”
Rani : “Yo, salah kamu juga sih.”
Mira : “Rani, aku minta solusi bukan jadi menyalahkan begini.”
Rani : “Mmm, begini saja. Kamu ajak saja Yoga karo Egi naik gunung. Kemudian pas di puncak, kamu katakan yang sejujurnya tentang perasaanmu kepada Yoga dan kamu juga katakan kalo kamu tidak ingin mereka gulet gara-gara kamu.”
Mira : “Serius kamu? Gunung itu kan sudah mau meletus.”
Rani : “Yo, itu hanya saran aku.”
Mira : “Mmm, aku pikir-pikir lagi deh.”
Rani : “Terserah kamu saja.”


ADEGAN 11

Egi berusaha untuk mendekati Mira tanpa sepengetahuan Yoga. Sebenarnya, ia tidak ingin mengkhianati Yoga. Tetapi, ia juga sangat menyukai Mira sang gadis desa. Kejadian itu terus berulang, sampai akhirnya Yoga tahu bahwa Egi diam-diam mendekati Mira. Suatu malam, Saat Egi dan Yoga sedang bersiap-siap untuk tidur, Yoga memberanikan diri menegur Egi.

Yoga : “Gi, lu PDKT sama Mira ya?”
Egi : “Mmm, kok lu bisa nyangka gitu?”
Yoga : “Alaah, gue tau gi. Sudahlah lu jangan bohong! Gue nggak nyangka lu sebusuk itu. Lu sudah ngerebut cewek yang gue suka dari dulu. Bahkan sebelum gue cerita ke lu. Lu sudah menghancurkan persahabatan kita.”
Egi : “Ga, maafin gue.”
Yoga : “Alaah, gue nggak mau dengar alasan lu!” (tidur)

ADEGAN 12

Keesokan paginya, saat Yoga dan Egi ke rumah Mira untuk menyatakan cinta mereka, Mira langsung menantang mereka untuk hiking ke gunung dan merekapun setuju. Akhirnya mereka bertiga mendaki gunung Merapi. Ditengah perjalanan, Mira mulai memahami karakter dari diri Yoga dan Egi. Egi yang selalu mengeluh dan Yoga yang terus diam membisu dengan wsajah seperti memendam amarah. Setelah pendakian yang melelahkan, akhirnya mereka tiba di puncak gunung Merapi.

Egi : “Huh, sampai juga. Panas sekali! Apa nggak berbahaya kita lama-lama disini?”
Yoga : “Mira, jangan lama-lama disini, takut ada wedhus gembel.”
Mira : “Iya mas, Mira cuma ingin bicara sebentar sama mas Egi dan mas Yoga. Begini mas, maaf jika Mira sudah membuat hancur persahabatan kalian berdua. Sebenarnya sopo sing kalian perebutkan? Kalau boleh jujur, sebenarnya Mira tidak cinta sama mas Egi… dan juga mas Yoga. Jadi buat apa kalian hancurkan persahabatan kalian? Mira lebih senang kalau mas Egi dan mas Yoga bersahabat seperti dulu.”
Egi dan Yoga : “APA??”
Egi : “Jadi lu ngajak kita kesini untuk ngomong itu saja?”
Yoga : “Apa gunanya ini semua?”
Mira : “Iya mas, Mira ingin kalian bersatu lagi.”
Yoga : “Nggak bisa Mira, dia itu berhati busuk!” (sambil menunjuk Egi)
(terdengar suara gemuruh)

Egi : “Suara apa itu?”
Yoga : “Apa itu? Ayo cepat kita turun, suhunya semakin panas.”

ADEGAN 13

Mereka bertiga berlari sekencang-kencangnya menuruni gunung merapi. Namun, suara gemuruh itu terdengar semakin jelas dan besar. Suara gemuruh itu adalah awan panas yang keluar dari puncak merapi. Karena lelah, Egi dan Mira terjatuh.

Egi dan Mira: “Aaaaaaaaaaaaa…!” (terjatuh)
Yoga : (menoleh ke belakang) “Egi! Mira!”
Egi : “Yoga! Tolong gue!”
(Yoga berlari ingin menghampiri Egi. Namun..)
Mira : “Maas… tolong!”
(Yoga terdiam sejenak)
Egi : “Yoga sahabatkuuu!”
Mira : “Mas, aku sayang mas..”

(Yoga bingung siapa yang harus ia selamatkan)

ADEGAN 14

Suara itu pun semakin dekat dan Yoga semakin bingung, harus menyelamatkan siapakah ia, dalam waktu yang bersamaan ini? Akhirnya ia memilih untuk menyelamatkan Egi terlebih dahulu, lalu ia akan selamatkan Mira. Namun,… gemuruh semakin besar. Egi sudah diselamatkan tetapi saat ingin menyelamatkan Mira, awan panas segera datang.

Mira : “Aaaaaaaaaaaaaaaa!” (teriak)

Egi dan Yoga berlari sekencang-kencangnya sampai akhirnya mereka melompat dan tak sadarkan diri. Mereka ditemukan pingsan dikaki gunung Merapi. Seorang perawat langsung membawanya ke posko pengungsian dan mengobatinya. Sang perawat terlebih dahulu mengobati Yoga yang terluka tangannya. Ia mengobati dengan penuh kasih sayang.

Perawat : “Apa yang dirasa sakit mas?”
Yoga : “Seluruh tubuh saya.”
Perawat : “Baik, akan saya obati! Eh, mas Yoga ya?”
Yoga : “Iya saya Yoga. Mbak siapa?”
Perawat : “Mas nggak ingat sama saya?”
Yoga : “Siapa?”
Perawat : “Saya Susi, mas.”
Yoga : “Ooh, Susi teman SMP dulu?”

(Perawat dan Yoga berbicara tanpa suara)

Ternyata perawat itu adalah Susi. Teman SMP Yoga yang pernah menyukainya. Sampai sekarang, perasaan Susi terhadap Yoga tidak pernah berubah.

ADEGAN 15

Satu jam setelah kejadian itu, Emak dan Adik datang ke posko pengungsian untuk mencari Yoga dan Egi. Emak sangat khawatir sekali kepada mereka berdua.

Adik : “Maaas…!”
Emak : “Anakkuu…!”
(Emak dan Adik menghampiri Yoga, lalu Adik menghampiri Egi)
Adik : “Mas, kenapa bisa begini?”
Egi : “Aduuh, aduh..”
Adik : “Mas tenang ya, sini aku obati.”

(berbicara tanpa suara)

ADEGAN 16

Mira telah tewas di puncak gunung Merapi karena awan panas. Namun tujuan Mira tercapai. Dia berhasil menyatukan persahabatan Yoga dan Egi. Meskipun Mira tidak bisa menyaksikan persahabatan Yoga dan Egi, namun Mira pasti bahagia karena berkat dirinyalah persahabatan Yoga dan Egi terjalin kembali. Perawat yang merawat Yoga begitu lembut dan penuh kasih sayang, hingga membuat Yoga merasa nyaman berada di sisinya. Begitupun dengan Egi, dia merasa nyaman berada didekat adiknya Yoga. Tak lama kemudian Rani datang ke tenda pengungsian.

Rani : “Mas Yoga karo mas Egi ndak opo-opo?”
Yoga : “Maafkan aku, aku tidak bisa menyelamatkan Mira.”
Rani : “Apa yang Mira katakan di puncak gunung?”
Egi : “Mira bilang kalau dia nggak mencintai aku dan Yoga. Ia ingin menyatukan kembali persahabatan kami.”
Yoga : “Memang ada apa, Rani?”
Rani : “Sebenare Mira bercerita kepadaku bahwa dia menyukai mas Yoga. Dia mencintai mas Yoga sejak dulu. Yang sabar ya mas. Maaf Rani baru kasih tahu saat ini.”
Yoga : “Sudah tak apa, yang lalu biarlah berlalu saja. Untuk apa disesali?”
Rani : “Rani harap mas Yoga tidak sedih terus.”

(mereka berbincang-bincang)

ADEGAN 17

Dua minggu kemudian, aktivitas masyarakat desa Gunung Meledug sudah kembali normal karena gunung Merapi sudah dinyatakan tidak berbahaya. Pada hari itu, Yoga, Egi, Adik, Susi dan Rani berniat mengunjungi gunung Merapi tersebut untuk mengenang almarhumah Mira. Sesampainya di puncak gunung, mereka berdo;a untuk ketenangan dan keselamatan Mira.

(berdo’a)

Semua : “Amiin..”
Rani : “Mas Yoga dan mas Egi yang sabar ya..”
Yoga : “Untuk apa?”
Rani : “Pasti kalian sedih sekali di tinggal Mira.”
Yoga : “Ooh, ya sudahlah. Lagipula mas sudah punya penggantinya.”
Rani : “Hah? Siapa?”
Yoga : “Susi..”
Perawat : (malu-malu)
Rani : “Lalu bagaimana dengan mas Egi?”
Egi : “Mmm, kan ada Adik” (menunjuk ke Adik) “Ga, boleh ya?”
Yoga : “Mmm, sebenarnya gue nggak rela, tapi demi sahabat…”
Egi : “Yes!”
Yoga : “Eits! Tanya dulu, mau nggak?” (sambil melirik ke Adik)
Egi : “Dik, mau nggak sama mas temannya Jet Li ini?”
Adik : “Mmm,…” (mengangguk)
Semua : “Yeeee…”

ADEGAN 18

Akhirnya Egi dan Yoga dapat bersahabat kembali berkat Mira dan merekapun mendapatkan pasangan yang mereka cintai. Tentu mereka tidak begitu saja melupakan Mira. Inilah bukti bahwa mereka akan terus mengingat Mira.

Semua : “TERIMA KASIH MIRA.”
Yoga : “Apapun yang terjadi…”
Egi : “..kita tetap bersahabat..”
Semua : “Selamanya”
Egi : “Iya kan?” (tos ke Yoga)
Egi dan Yoga : “Aduuuh…” (tangannya sakit)
Egi : “Ga, kita sudah bolos kuliah 1 minggu. Gimana nih?”
Yoga : “Ya sudahlah kita kan masih sakit.”


SELESAI


Keterangan:
Gulet : bertengkar
Iyo : iya
Ladeni : layani
Pie : bagaimana
Sing : yang
Sopo : siapa
Wedhus gembel : awan panas
Enggih-enggih : ayo-ayo (silahkan)
Ndak : tidak
Sebenere : sebenarnya
Ojo : jangan
Opo : apa

(jika ingin meng-copy jangan lupa cantumkan sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar