Jumat, 25 Juni 2010

cahaya yang padam


Disebuah rumah di komplek perumahan yang bisa dibilang cukup elite itulah, Fariza Asyifa tinggal. Sebuah rumah besar dan megah bercat hijau lumut muda. Didepannya terdapat taman yang ditumbuhi banyak pohon adenium beraneka warna. Ada sebuah gazebo yang tepat dibawahnya terdapat kolam ikan mas. Sebuah mushala kecil berdiri tegak dibelakang rumah itu. Rumah itu terlihat begitu asri dan nyaman ditinggali.
Namun, dirumah yang besar dan megah itu, Riza hanya ditemani oleh Kakak dan Bi Nem, perawatnya sejak kecil. Ibunya sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Waktu itu Riza masih berumur sepuluh tahun. Sedangkan Ayahnya adalah

seorang pebisnis yang sering bepergian ke luar kota. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Ayahnya pulang ke rumah hanya 1 bulan sekali bahkan pernah 2 bulan sekali. Ayahnya-pun hanya tinggal di rumah paling lama 2 sampai 3 hari. Pernah Riza berfikir, bahwa Ayahnya bersikap seperti itu karena perasaan yang terlalu mendalam terhadap kepergian ibunya. Tapi walau begitu, ayahnya tetap mentrasfer uang saku untuk Riza dan Kakaknya. Tepat waktu dan tidak kurang sepeserpun. Malah kadang diberi lebih. Tapi walau bagaimanapun, tetap rasa kasih sayang orang tua tidak bisa dibeli dengan uang.
Walau tidak mendapatkan kasih sayang dari Ayah apalagi Ibunya, tapi dia mendapat kasih sayang penuh dari Kakaknya. Kakaknya-lah yang selalu menemani dia belajar dan bermain. Mendengarkan curahan hatinya. Menjadi Imam untuk shalatnya. Bahkan walau sesibuk apapun, Kakaknya tetap menyempatkan diri untuk mengantar Riza pergi ke sekolah dan menjemputnya. Kakaknya-lah yang pertama kali dia lihat saat membuka mata dari bangun tidurnya dan menutup mata untuk tidur kembali.
Pernah suatu waktu Riza menanyakan keberadaan Ayahya. Menanyakan sesosok yang seharusnya melindungi dan menjaga dia dari gelapnya kehidupan. Tapi dengan bijaknya Kakak berkata
”Kakak yang akan melindungi dan menjaga kamu. Ceritakan semua yang kau rasakan pada Kakak”.
Kakak adalah segalanya bagi Riza. Orang tua yang tegas dan bijaksana, guru yang menasihati saat salah dan lupa, bahkan sahabat yang menghibur dan menyenangkan.
***
”Uhuk..uhuk..” Kakak terbatuk-batuk sambil menutupi mulutnya. Dan saat melihat telapak tangannya, terdapat bercak merah darah bercampur lendir.
Belum sempat Kakak mengelap tangannya, Bi Nem yang semula ingin merapihkan kamar, masuk kamar Kakak dan melihat apa yang terjadi.
”Astagfirullah, Mas!! Ada apa ini?? Ini mah harus dibawa ke Dokter atuh” panik Bi Nem.
”Engga papa ko Bi. Aku cuma kecapean aja” kata Kakak mengelak.
”Tapi, Mas....”
”Udalah Bi. Aku engga kenapa-kenapa ko. Tapi, jangan sampai Risa tau soal ini ya Bi, aku hanya engga mau dia jadi kepikiran” pinta Kakak. Tapi Bi Nem hanya diam, tidak mengiyakan ataupun menolak.
***
Suara Riza mengagetkan Kakak yang sedang menyelesaikan tugas mata kuliahnya di kamarnya.
”Kakak, lihat deh!! Tadi disekolah aku dapat nilai A untuk pelajaran matematika” kata Riza sambil menunjukkan kertas ulangannya dengan penuh senyuman.
”Oo ya, hebat dong adikku yang satu ini!!” kata Kakak sambil mengelus rambut Riza yang dibalut kerudung putih itu.
Kakak mengajak Riza merayakan keberhasilan adik tercintanya itu dengan makan soto di kaki lima.

Saat sedang menunggu makanan yang sudah dipesan, tiba-tiba Riza menanyakan sesuatu yang menurut Kakak tidak perlu ditanyakan itu
”Kak, Kakak harus janji sama aku kalau kakak akan selalu ada dihatiku” ucap Riza sambil mengacungkan kelingkingnya.
”Iya, Kakak janji akan selalu ada di hati kamu” kata Kakak sambil membalas uluran kelingking Riza.
Saat sedang menuju tempat parkir untuk pulang, tiba-tiba Riza jatuh pingsan. Bungkusan makanan yang mereka beli untuk Bi Nem jatuh. Kakak panik dan bingung. Riza dari tadi memang mengeluh sedikit pusing. Tapi dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Seketika itu juga Kakak membawa Riza ke Rumah Sakit terdekat.
***
”Apakah anda yakin dan sudah memikirkannya matang-matang, Tuan Rofi?” tanya seseorang yang berseragam putih dan berkalungkan stetoskop di lehernya itu pada Kakak.
”Insya Allah saya siap” Jawab Kakak sambil menganggukkan kepalanya.
Kakak masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Seharusnya dia yang tertidur di ruangan yang serba putih itu. Seharusnya dia yang merasakan sakit itu. Seharusnya dia yang duluan menyusul jejak ibunya. Karena dia yang jelas-jelas sudah lebih dulu mengidap penyakit. Bukan Riza. Riza divonis mengidap penyakit Wilson’s Disease. Pengerasan hati. Kakak sudah tidak lagi melihat senyum yang terukir indah di bibirnya. Tidak lagi mendengar suara yang membuat hati terasa senang. Tidak lagi terpancar sinar cahaya kehangatan di matanya. Yang ada hanyalah rasa sedih. Rasa takut akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Sudah dua hari Riza dirawat inap. Tetapi belum ada orang yang rela tulus ikhlas mendonorkan hatinya untuk Riza. Tubuhnya semakin lemah tak berdaya. Riza terlihat tersiksa dengan semua yang dia rasakan. Riza memang tidak suka dengan bau parfum Rumah Sakit yang begitu menyengat.
Tapi sebentar lagi, keceriaan itu akan muncul lagi. Kehangatan akan menyelimuti orang-orang disekelilingnya lagi. Sabar adikku, gumam Kakak.
Dimalam yang sunyi senyap itu, di malam yang mencekam. Riza perlahan mencoba membuka matanya, dia tidak melihat sesosok yang sangat dia sayangi. Dia tidak melihat sesosok yang selalu ada untuknya. Yang selalu memberi saran dan nasihat padanya. Yang dia lihat malah Bi Nem yang terlihat senang melihat dia bangun. Dan juga sesosok yang pernah dia benci. Benci karena ketidakpeduliannya. Benci karena keegoisannya. Dialah Ayah. Matanya berkaca-kaca diiringi dengan seulas senyuman dibibirnya.
”Maafkan Ayah, Riza” kata Papa sambil mengelus rambut Riza.

”Dii..mana Kaa..kak??” suara Riza tertahan.
Bi Nem dan Ayah hanya diam seribu bahasa. Sejurus kemudian, Ayah memberi Riza surat beramplop warna ungu. Warna kesukaan Riza.











Riza merengguh dadanya. Merasakan hangatnya kasih sayang Kakak melalui hatinya. Mutiara-mutiara kecil yang sudah tidak tertahan lagi jatuh berhamburan membasahi kedua pipinya. Kakak tidak tertolong saat dia mendonorkan hatinya untuk Riza. Jantungnya tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang sudah begitu lama dideritanya. Rasa sesal tiba-tiba menyergap sekujur tubuh Riza. Kini, cahaya yang selalu meneranginya sudah padam.




-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar