Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juli 2010

cerita seorang sahabat



sudah lama aku memendam rasa ini. aku merasakannya sejak 9 bulan lalu. awalnya aku merasa biasa-biasa saja. sampai akhirnya aku sadar, ada yang ganjil dengan dia.

aku mencoba untuk bersikap wajar. namun semakin aku menutupinya, semakin kelihatan sisi ketidak wajaranku.


aku kenal dia sejak duduk di kelas 4 esde. dia baik dan perhatian. enak di ajak ngobrol juga tidak neko-neko.

aku senang bisa berteman dengan dia. kami beda sekolah saat esempe. lost contact pun terjadi.

saat esema kami tidak menyangka akan bertemu kembali. satu kelas bahkan satu bangku. aku senang kami bersatu kembali. mengenang banyak cerita masa kecil kita. tertawa penuh suka ria.
namun seperti ku bilang diatas, bahwa sejak 9 bulan yang lalu aku merasa ada yang beda dengan dia.

dia tersenyum namun senyum itu bukan untukku.
dia tertawa namun tawa itu buka untukku.
dia menangis namun tangis itu bukan untukku.
sekarang aku merasa bahwa kau bukan untukku.

ingin ku berteriak 'itu kata-kataku!!!' 'itu ideku!!!'.
kau menggunakan kata-kataku.
kau menggunakan ideku tanpa disertai namaku.

tapi apa? apa???
aku hanya diam.
aku hanya tersenyum.

karena aku tau
karena aku yakin
kaulah temanku
teman terbaikku
ya, kaulah sahabatku

tak mungkin kau menghianatiku.
tak mungkin kau menyakitiku.
begitupun aku.
karena kau sahabatku.

sobat,
ahirnya aku sadar bahwa itu semua hanyalah KHAYALANKU.
khayalan akan takut kehilanganmu
khayalan akan takut ditinggal olehmu.

kawan,
terimakasih telah ada untukku.
:)
Read More..

Jumat, 25 Juni 2010

cahaya yang padam


Disebuah rumah di komplek perumahan yang bisa dibilang cukup elite itulah, Fariza Asyifa tinggal. Sebuah rumah besar dan megah bercat hijau lumut muda. Didepannya terdapat taman yang ditumbuhi banyak pohon adenium beraneka warna. Ada sebuah gazebo yang tepat dibawahnya terdapat kolam ikan mas. Sebuah mushala kecil berdiri tegak dibelakang rumah itu. Rumah itu terlihat begitu asri dan nyaman ditinggali.
Namun, dirumah yang besar dan megah itu, Riza hanya ditemani oleh Kakak dan Bi Nem, perawatnya sejak kecil. Ibunya sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Waktu itu Riza masih berumur sepuluh tahun. Sedangkan Ayahnya adalah

seorang pebisnis yang sering bepergian ke luar kota. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Ayahnya pulang ke rumah hanya 1 bulan sekali bahkan pernah 2 bulan sekali. Ayahnya-pun hanya tinggal di rumah paling lama 2 sampai 3 hari. Pernah Riza berfikir, bahwa Ayahnya bersikap seperti itu karena perasaan yang terlalu mendalam terhadap kepergian ibunya. Tapi walau begitu, ayahnya tetap mentrasfer uang saku untuk Riza dan Kakaknya. Tepat waktu dan tidak kurang sepeserpun. Malah kadang diberi lebih. Tapi walau bagaimanapun, tetap rasa kasih sayang orang tua tidak bisa dibeli dengan uang.
Walau tidak mendapatkan kasih sayang dari Ayah apalagi Ibunya, tapi dia mendapat kasih sayang penuh dari Kakaknya. Kakaknya-lah yang selalu menemani dia belajar dan bermain. Mendengarkan curahan hatinya. Menjadi Imam untuk shalatnya. Bahkan walau sesibuk apapun, Kakaknya tetap menyempatkan diri untuk mengantar Riza pergi ke sekolah dan menjemputnya. Kakaknya-lah yang pertama kali dia lihat saat membuka mata dari bangun tidurnya dan menutup mata untuk tidur kembali.
Pernah suatu waktu Riza menanyakan keberadaan Ayahya. Menanyakan sesosok yang seharusnya melindungi dan menjaga dia dari gelapnya kehidupan. Tapi dengan bijaknya Kakak berkata
”Kakak yang akan melindungi dan menjaga kamu. Ceritakan semua yang kau rasakan pada Kakak”.
Kakak adalah segalanya bagi Riza. Orang tua yang tegas dan bijaksana, guru yang menasihati saat salah dan lupa, bahkan sahabat yang menghibur dan menyenangkan.
***
”Uhuk..uhuk..” Kakak terbatuk-batuk sambil menutupi mulutnya. Dan saat melihat telapak tangannya, terdapat bercak merah darah bercampur lendir.
Belum sempat Kakak mengelap tangannya, Bi Nem yang semula ingin merapihkan kamar, masuk kamar Kakak dan melihat apa yang terjadi.
”Astagfirullah, Mas!! Ada apa ini?? Ini mah harus dibawa ke Dokter atuh” panik Bi Nem.
”Engga papa ko Bi. Aku cuma kecapean aja” kata Kakak mengelak.
”Tapi, Mas....”
”Udalah Bi. Aku engga kenapa-kenapa ko. Tapi, jangan sampai Risa tau soal ini ya Bi, aku hanya engga mau dia jadi kepikiran” pinta Kakak. Tapi Bi Nem hanya diam, tidak mengiyakan ataupun menolak.
***
Suara Riza mengagetkan Kakak yang sedang menyelesaikan tugas mata kuliahnya di kamarnya.
”Kakak, lihat deh!! Tadi disekolah aku dapat nilai A untuk pelajaran matematika” kata Riza sambil menunjukkan kertas ulangannya dengan penuh senyuman.
”Oo ya, hebat dong adikku yang satu ini!!” kata Kakak sambil mengelus rambut Riza yang dibalut kerudung putih itu.
Kakak mengajak Riza merayakan keberhasilan adik tercintanya itu dengan makan soto di kaki lima.

Saat sedang menunggu makanan yang sudah dipesan, tiba-tiba Riza menanyakan sesuatu yang menurut Kakak tidak perlu ditanyakan itu
”Kak, Kakak harus janji sama aku kalau kakak akan selalu ada dihatiku” ucap Riza sambil mengacungkan kelingkingnya.
”Iya, Kakak janji akan selalu ada di hati kamu” kata Kakak sambil membalas uluran kelingking Riza.
Saat sedang menuju tempat parkir untuk pulang, tiba-tiba Riza jatuh pingsan. Bungkusan makanan yang mereka beli untuk Bi Nem jatuh. Kakak panik dan bingung. Riza dari tadi memang mengeluh sedikit pusing. Tapi dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Seketika itu juga Kakak membawa Riza ke Rumah Sakit terdekat.
***
”Apakah anda yakin dan sudah memikirkannya matang-matang, Tuan Rofi?” tanya seseorang yang berseragam putih dan berkalungkan stetoskop di lehernya itu pada Kakak.
”Insya Allah saya siap” Jawab Kakak sambil menganggukkan kepalanya.
Kakak masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Seharusnya dia yang tertidur di ruangan yang serba putih itu. Seharusnya dia yang merasakan sakit itu. Seharusnya dia yang duluan menyusul jejak ibunya. Karena dia yang jelas-jelas sudah lebih dulu mengidap penyakit. Bukan Riza. Riza divonis mengidap penyakit Wilson’s Disease. Pengerasan hati. Kakak sudah tidak lagi melihat senyum yang terukir indah di bibirnya. Tidak lagi mendengar suara yang membuat hati terasa senang. Tidak lagi terpancar sinar cahaya kehangatan di matanya. Yang ada hanyalah rasa sedih. Rasa takut akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Sudah dua hari Riza dirawat inap. Tetapi belum ada orang yang rela tulus ikhlas mendonorkan hatinya untuk Riza. Tubuhnya semakin lemah tak berdaya. Riza terlihat tersiksa dengan semua yang dia rasakan. Riza memang tidak suka dengan bau parfum Rumah Sakit yang begitu menyengat.
Tapi sebentar lagi, keceriaan itu akan muncul lagi. Kehangatan akan menyelimuti orang-orang disekelilingnya lagi. Sabar adikku, gumam Kakak.
Dimalam yang sunyi senyap itu, di malam yang mencekam. Riza perlahan mencoba membuka matanya, dia tidak melihat sesosok yang sangat dia sayangi. Dia tidak melihat sesosok yang selalu ada untuknya. Yang selalu memberi saran dan nasihat padanya. Yang dia lihat malah Bi Nem yang terlihat senang melihat dia bangun. Dan juga sesosok yang pernah dia benci. Benci karena ketidakpeduliannya. Benci karena keegoisannya. Dialah Ayah. Matanya berkaca-kaca diiringi dengan seulas senyuman dibibirnya.
”Maafkan Ayah, Riza” kata Papa sambil mengelus rambut Riza.

”Dii..mana Kaa..kak??” suara Riza tertahan.
Bi Nem dan Ayah hanya diam seribu bahasa. Sejurus kemudian, Ayah memberi Riza surat beramplop warna ungu. Warna kesukaan Riza.











Riza merengguh dadanya. Merasakan hangatnya kasih sayang Kakak melalui hatinya. Mutiara-mutiara kecil yang sudah tidak tertahan lagi jatuh berhamburan membasahi kedua pipinya. Kakak tidak tertolong saat dia mendonorkan hatinya untuk Riza. Jantungnya tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang sudah begitu lama dideritanya. Rasa sesal tiba-tiba menyergap sekujur tubuh Riza. Kini, cahaya yang selalu meneranginya sudah padam.




-SELESAI-
Read More..

awas, caleg gila!!!

Hari ini pulang cepet seneng rasanya. Maklum, sebagai anak kelas 3 MTs (setara dengan SMP) yang sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional, menurutku kami harus sering-sering dipulangkan cepat. Ya, walau aku yakin para guru dan orang tua tidak akan setuju dengan usulku. Haha.. Tapi tetap saja aku harus mengikuti bimbel di NF (Nurul Fikri). Supaya tidak ketinggalan dengan sekolah lain. Bersama ke 3 orang temanku, kami menunggu waktu tiba untuk pergi bimbel di warung biasa kami jajan. Warung itu terletak di samping jalan raya, depan masjid Al-Manar. Saat sedang berjalan menuju warung, banyak orang yang berkumpul di pinggir kali kecil dekat masijd. ternyata ada seorang bapak yang sedang tiduran di kali kecil itu. udah kaya di pantai aja tuh orang. Kali kecil itu memang difungsikan sama seperti got. So, ih.... jorok banggeet..


Kamipun melanjutkan jalan menuju warung tempat duduk-duduk kami. Aku melemparkan pandangan ke jalanan yang terlihat tidak begitu lengang tapi juga tidak macet. Banyak sekali kulihat poster-poster caleg (calon legislatif) tertempel di tiang-tiang listrik atau di pohon-pohon. Tapi aku tidak tertarik, aku malah lebih tertarik untuk memperhatikan anak kecil di sebrang jalan yang sedang bermain kejar-kejaran. karena haus, aku memesan minuman kemudian disusul teman-temanku.
"Neng, udah liat orang gila di depan masjid belum?" kata bang Samson si empunya warung sambil melayani minuman es kami.
"udah Bang, emang kenapa?" tanyaku polos
"katanya tu caleg loh neng"
"masa si Bang?" tanya salahsatu temanku tak percaya.
"Iya. liat aja bajunya, masih putih mulus. Dompetnya juga katanya tebel loh neng" jawab Bang Samson antusias. "katanya sih gara-gara tidak terpilih jadi dewan legislatif" kata Bang Samson lagi dengan dipenuhi 'katanya'.
didesak dengan rasa penasaran, kami kembali melihat Sang Bapak yang tiduran di kali itu. kami tadi memang hanya melihat sekilas, jadi kami tidak terlalu memerhatikan baju yang dipakainya. Kami harus menyebrang jalan raya dulu untuk melihatnya.
Ternyata benar, kaos dalam putih bapak itu masih bersih. Celana panjang yang dipakainya juga masih mulus. Tapi aku tidak melihat dompet yang katanya tebal itu. Dasar orang gila. Seperti tidak ada tempat lain saja yang bisa dijadikan alas tidur. Eh, caleg gila itu melirik kami. iih.. Serem.

Sedang asik memperhatikan sang caleg gila, kami dipanggil bang Samson. Ternyata minuman yang kami pesan sudah jadi. Kami pun menyebrang untuk mengambilnya. Setelah mengambil minuman, kami pun nybrang lagi untuk melanjutkan liat caleg gila.
Ke 3 temanku yang lainpun datang. Mereka masing-masing membawa motor. Ternyata mereka igin melihat caleg gila itu. Alhasil kami bolak-balik nyebrang jalan sampai 3 kali untuk liat caleg gila itu. Sampai pada akhirnya.
"eh, liat deh orang gilanya bangun tuh" salah satu temanku bersuara.
Yap, memang bener. Orang gila yang awalnya tiduran itu bangun untuk duduk. Terus orang gila itu main-main air disekitarnya. Tapi ko, aku melihat orang gila itu ingin berdiri dan melihat ke arah kami.
deg..deg...
Kami panik dan langsung ingin menyebrang ke warung. Tapi sialnya jalanan lagi ramai. 'Ya Allah, haruskah kami tetap disini lalu tertangkap caleg gila ini atau kami harus menyebrang untuk orang gila di sebrang sana'. Ya ampun, ada orang gila juga di sebrang jalan sana. Sepertinya hari ini akan menjadi hari sial kami.
Dengan segenap keberanian yang kumiliki, aku langsung menyabrang jalanan dan langsung diikuti oleh ke 6 temanku yang lain. Karena kami pikir, lebih baik melewati orang gila yang ada di sebrang dari pada harus ditangkap caleg gila itu.
Bang Samson yang melihat kami berlarian langsung bertanya "ada apa nih lari-lari?"
"i,iitu bang caleg gilanya bangun"
Dari sebrang jalan kami bisa melihat si caleg gila sedang lari ke arah kami. Larinya cepat sekali. dia langsung memanjat tebing kali. Bang Samson langsung menyuruh kami masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Bang Samson berjaga di luar. Kami mengintip dari jendela kalau si caleg gila ingin nyebrang ke warung. Tapi karena terhalang oleh sebuah kendaraan, caleg gila itu tidak jadi menyebrang.
Kami semua panik dan takut. Kami takut kalau warung Samson nantinya akn diobrak-abrik oleh si caleg gila. Kami terus berdo'a semoga caleg gila itu tidak jadi nyebrang.
Dan benar saja. Caleg gila itu kesulitan menyebrang karena jalanan memang sedang ramai. Tapi, caleg gila itu melihat anak-anak kecil yang sedang berlarian. Sang caleg gila pun langsung mengejar anak-anak kecil itu.
Kami langsung keluar rumah yang dijadikan sebagiannya dijadikan sebagai warung itu. Temanku yang membawa motor langsung memasukannya ke bagasi rumah Bang Samson karena takut diamuk caleg gila.

kami langsung kaget saat melihat si caleg gila itu menendang kompor seorang penjual 'martabak telor mini'. bukan hanya itu, si caleg itu juga menyiram minyak panas ke badan sang penjual. kontan warga di sekitar langsung menangkap caleg gila itu dan menonjokinya.

kami hanya bisa berteriak-teriak. jalanan menjadi macet. tapi sebuah kebetulan, seorang bapak polisi melintas di hadapan kami. kami langsung memanggil polisi itu. polisi itupun langsung menghubungi teman-temannya sesama polisi.

caleg gila itupun dibawa ke kantor polisi. kami melihat bapak penjual itu badannya merah-merah kepanasan. kami jadi meras bersalah telah mengganggu orang yang katanya caleg gila itu.:'(


Teruntuk teman-temanku
yulita, norma, rini, jannah, dini dan ratna.
Read More..